Menang Bukan Sekadar 3 Poin, Bobotoh Sepuh Ini Bagikan Uang sebagai Wujud Syukur

BANDUNG, NEXASORA — Ada banyak cara merayakan kemenangan Persib Bandung. Ada yang berteriak di tribun, menyanyikan chant, mengibarkan bendera, melakukan konvoi, hingga sekadar tersenyum puas melihat Pangeran Biru kembali meraih tiga poin. Namun, momen yang satu ini terasa berbeda. Di tengah euforia kemenangan Persib atas PSM Makassar dengan skor 3-1 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Minggu (6/9/2026), sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan sosok Bobotoh sepuh melakukan hal yang tak biasa.

Ia terlihat membagikan uang kepada orang-orang di sekitarnya sebagai bentuk rasa syukur dan kebahagiaan atas kemenangan Persib. Momen tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial, terutama karena usia sang Bobotoh yang sudah tidak muda lagi. Bukan sekadar soal nominal uang yang dibagikan. Yang membuatnya menarik justru adalah pesan di balik tindakan sederhana tersebut: kecintaan kepada Persib ternyata bisa tumbuh bersama usia.

Video tersebut diunggah oleh akun TikTok @bunganurjanah dan kemudian dibagikan kembali oleh @bandungfolks. Dalam kolom komentar, sejumlah warganet mengaku mengenal sosok tersebut. Salah satu informasi yang beredar menyebutkan bahwa Bobotoh sepuh itu kini merupakan pengusaha di bidang percetakan. Informasi tersebut masih berasal dari percakapan warganet di kolom komentar, sehingga identitas dan latar belakang lengkap sosok tersebut perlu dikonfirmasi lebih lanjut.

Bobotoh Memang Lebih dari Sekadar Suporter

Kalau melihat sejarahnya, apa yang dilakukan Bobotoh sepuh tersebut sebenarnya menggambarkan satu hal yang sudah sangat lama melekat pada sepak bola Bandung: Persib bukan hanya klub sepak bola.

Istilah Bobotoh sendiri berasal dari bahasa Sunda. Secara makna, Bobotoh merujuk pada orang yang memberikan semangat atau dukungan kepada seseorang yang sedang bertanding.

Jauh sebelum era media sosial, bahkan sebelum Persib seperti yang dikenal sekarang, tradisi memberikan dukungan terhadap sepak bola Bandung sudah tumbuh sejak masa Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) pada era kolonial.

Pada 1933, PSIB dan NVB kemudian melebur dan melahirkan Persib.

Dukungan masyarakat terhadap klub Bandung itu pun terus berkembang. Salah satu momen penting terjadi pada 1937, ketika Persib menjadi juara dan perjalanan pulang tim disambut oleh para pendukungnya. Tradisi menyambut kemenangan dan merayakan keberhasilan Persib kemudian menjadi bagian dari budaya sepak bola Bandung.

Puluhan tahun kemudian, tradisi itu masih hidup.Bedanya, bentuknya kini semakin beragam.

Ada yang datang langsung ke stadion. Ada yang menonton bersama keluarga. Ada yang mengikuti pertandingan dari rumah. Ada yang memenuhi jalanan Bandung setelah kemenangan. Dan ada pula seperti Bobotoh sepuh dalam video tersebut—merayakan kemenangan dengan berbagi kebahagiaan kepada orang lain.

Dari Generasi ke Generasi

Inilah bagian paling menarik dari budaya Bobotoh. Usia boleh bertambah. Pemain bisa berganti. Pelatih datang dan pergi. Jersey berubah dari masa ke masa. Tetapi kecintaan terhadap klub bisa tetap tinggal.

Sejarah Bobotoh sendiri menunjukkan bagaimana dukungan terhadap Persib berkembang dari generasi ke generasi. Pada era 1980-an, misalnya, Bobotoh dikenal mampu memenuhi stadion ketika Persib tampil di tingkat nasional. Memasuki era 1990-an, kelompok-kelompok pendukung kemudian semakin terorganisasi dengan karakter dan gaya dukungan masing-masing.

Karena itu, sosok Bobotoh sepuh di tribun bukan sekadar pemandangan menarik. Ia seperti gambaran kecil dari perjalanan panjang sepak bola Bandung. Seorang anak muda mungkin mengenal Persib dari media sosial. Generasi yang lebih tua mungkin mengenalnya dari Stadion Siliwangi. Generasi sebelumnya mungkin mengenal Persib dari cerita orang tua mereka.Namun semuanya bertemu pada satu warna:biru.

Ketika Kemenangan Menjadi Alasan untuk Berbagi

Ada satu hal yang membuat video ini terasa lebih hangat. Sang Bobotoh tidak hanya menikmati kemenangan untuk dirinya sendiri. Ia justru membagikan sebagian kebahagiaannya kepada orang lain.Entah berapa nominal yang diberikan, sebenarnya bukan itu persoalannya. Sebab dalam budaya suporter, kemenangan memang sering kali bukan hanya dirayakan sebagai hasil pertandingan. Ia menjadi alasan untuk berkumpul, tertawa, bernyanyi, bertemu teman lama, dan menciptakan cerita baru.

Dan mungkin, bagi Bobotoh sepuh tersebut, membagikan uang adalah caranya mengatakan: “Alhamdulillah, Persib menang. Kita ikut bahagia. ”Persib sendiri mengawali musim Super League 2026/2027 dengan kemenangan 3-1 atas PSM Makassar di GBLA pada Minggu malam. Tiga gol di lapangan mungkin tercatat dalam statistik. Tiga poin masuk ke klasemen. Tetapi di luar lapangan, kemenangan itu melahirkan cerita-cerita kecil yang tidak tercatat dalam papan skor. Salah satunya adalah cerita tentang seorang Bobotoh sepuh yang memilih merayakan kemenangan dengan berbagi.

Karena bagi sebagian orang, menjadi Bobotoh bukan soal berapa lama seseorang berdiri di tribun. Tetapi tentang berapa lama rasa cinta itu bertahan. Dan jika melihat sosok sepuh yang masih begitu bersemangat merayakan kemenangan Persib, jawabannya mungkin sederhana:selama Persib masih bermain, selalu ada alasan untuk mencintai.

Sumber Informasi Informasi dalam artikel ini berasal dari sumber yang relevan dan telah melalui proses penyuntingan NEXASORA.
Bagikan artikel ini

Bantu sebarkan informasi dan cerita lokal NEXASORA.

Punya informasi menarik?

Bagikan informasi, peristiwa, cerita, atau kegiatan dari kota Anda kepada NEXASORA.

Kirim Informasi →