CIMAHI – 19 Agustus 2026. Kota Cimahi hari ini mengalami kemacetan parah setelah Jalan Gatot Subroto di depan Pemkot ditutup total untuk proyek pembangunan underpass. Situasi semakin diperburuk karena renovasi jembatan di area Pemkot dilakukan bersamaan, sehingga hampir seluruh jalur utama kota tidak bisa digunakan secara normal.
Sejak pagi, arus kendaraan tersendat di berbagai titik. Jalur alternatif seperti Pasirkumeli, Padasuka, dan Warung Contong langsung padat karena kapasitas jalan tidak sebanding dengan volume kendaraan harian Cimahi. Kendaraan besar seperti bus dan truk terpaksa dialihkan ke jalur utama Jalan Amir Machmud – Mahar Martanegara – Tol Baros atau Pasirkoja Bandung, namun tetap menambah beban lalu lintas di kawasan tersebut.
Proyek ini direncanakan berlangsung hingga Desember 2026, dengan normalisasi arus diperkirakan baru terjadi pada Januari 2027. Aparat gabungan dari Dishub, TNI, dan Polri ditempatkan di 28 titik rawan macet, lengkap dengan rambu sementara dan barrier. Meski demikian, warga tetap harus menanggung perjalanan yang lebih lama, bahkan dua kali lipat dari biasanya.
Pelaksanaan proyek underpass dan renovasi jembatan secara bersamaan menimbulkan efek domino: hampir seluruh akses Cimahi macet. Rekayasa lalu lintas yang disiapkan pemerintah daerah belum mampu mengurai kepadatan. Kritik pun muncul karena jalur alternatif yang disiapkan tidak sebanding dengan kebutuhan. Tanpa strategi transportasi publik yang lebih kuat, Cimahi berisiko menghadapi “macet permanen” hingga akhir tahun.
Dampak sosial langsung terasa. Waktu tempuh warga menuju sekolah dan tempat kerja meningkat drastis, UMKM di sekitar jalur alternatif kehilangan akses pelanggan, dan dominasi kendaraan pribadi memperparah kondisi. Proyek infrastruktur ini memang penting untuk jangka panjang, tetapi transisi menuju pembangunan seharusnya tidak mengorbankan mobilitas warga secara ekstrem.
