Bandung punya banyak tempat yang berubah mengikuti zaman. Tetapi ada satu kawasan yang seolah menyimpan potongan-potongan cerita Bandung dari masa ke masa: Jalan Braga.
Hari ini, Braga dikenal sebagai salah satu kawasan yang paling mudah dikenali di Kota Bandung. Deretan bangunan lama, trotoar, kafe, restoran, ruang seni, hingga aktivitas warga membuat kawasan ini tetap hidup.
Namun jauh sebelum menjadi tempat berjalan-jalan dan berkumpul seperti sekarang, kawasan Braga memiliki perjalanan sejarah yang panjang.
Dari Jalan Sederhana Menjadi Bragaweg

Pada masa awal perkembangannya, kawasan Braga bukanlah pusat keramaian seperti sekarang. Jalan ini merupakan jalur sederhana yang menghubungkan sejumlah kawasan di sekitar pusat Bandung dan mengikuti aliran Sungai Cikapundung.
Pada abad ke-19, jalur tersebut dikenal dengan sejumlah nama, termasuk Karrenweg atau jalan yang digunakan untuk lalu lintas pedati. Kawasan di sekitarnya kemudian berkembang seiring pertumbuhan Bandung dan meningkatnya aktivitas perkebunan di Priangan.
Nama Bragaweg mulai dikenal pada akhir abad ke-19. Salah satu versi sejarah yang banyak disebut mengaitkannya dengan Toneelvereeniging Braga, kelompok seni pertunjukan yang berdiri pada 1882. Sejak saat itu, nama Braga semakin melekat pada kawasan tersebut.
Asal-usul nama “Braga” sendiri masih memiliki beberapa versi. Karena itu, Nexasora tidak menyimpulkan satu versi sebagai fakta mutlak. Yang jelas, nama Braga telah menjadi bagian dari identitas Bandung sejak masa kolonial.
Ketika Braga Menjadi Pusat Gaya Hidup

Memasuki awal abad ke-20, wajah Braga berubah drastis.
Pertokoan, hotel, restoran, kafe, perkantoran dan tempat hiburan mulai bermunculan. Kawasan ini kemudian berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan dan gaya hidup masyarakat Eropa di Bandung.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa pada era tersebut terdapat berbagai usaha dan toko yang melayani kebutuhan kelas menengah atas, termasuk toko barang impor dan berbagai fasilitas hiburan. Bank Indonesia juga mencatat bahwa kawasan Braga menjadi bagian dari pusat kegiatan ekonomi, perdagangan, pertokoan dan perkantoran Kota Bandung pada masa kolonial.
Pada dekade 1920-an hingga 1930-an, Braga mencapai salah satu masa kejayaannya.
Bangunan-bangunan bergaya Art Deco dan arsitektur Eropa memenuhi koridor jalan. Salah satu bangunan yang dikenal dalam sejarah Braga adalah toko buku Van Dorp yang dibangun pada 1922 dan dirancang oleh arsitek C.P. Wolff Schoemaker. Bangunan tersebut kini dikenal sebagai Landmark Convention Centre.
Braga pun tidak lagi hanya menjadi sebuah jalan.
Ia berubah menjadi ruang tempat orang berbelanja, menikmati hiburan, bertemu, berjalan-jalan, dan menunjukkan gaya hidup.
Braga dan Lahirnya Citra “Paris van Java”

Popularitas Braga ikut membentuk citra Bandung sebagai kota yang modern dan bergaya pada masa Hindia Belanda.
Deretan pertokoan dengan barang-barang impor, bangunan bergaya Eropa, restoran, tempat hiburan dan aktivitas masyarakat kelas atas membuat kawasan ini menjadi salah satu simbol modernitas Bandung pada zamannya.
Dari sinilah citra Bandung sebagai “Paris van Java” semakin kuat.
Braga menjadi salah satu bagian penting dari cerita tersebut.
Dari Masa Kolonial ke Bandung Hari Ini
Sejarah Braga tidak berhenti ketika masa kolonial berakhir.
Bangunan dan kawasan di sekitarnya terus mengalami perubahan fungsi. Sebagian bangunan bertahan, sebagian mengalami perubahan, sementara aktivitas baru terus muncul mengikuti perkembangan kota.
Yang menarik, karakter lama Braga masih dapat ditemukan sampai sekarang.
Pemerintah Kota Bandung sendiri menetapkan Kelurahan Braga sebagai Kampung Wisata Kreatif, Warisan Budaya dan Sejarah pada 2018. Dalam dokumen perencanaan kota, kawasan Alun-alun–Braga juga ditempatkan sebagai kawasan pariwisata warisan budaya dengan sejumlah bangunan cagar budaya di dalamnya.
Artinya, Braga bukan hanya tempat yang kebetulan memiliki bangunan tua.
Kawasan ini memang menjadi bagian dari warisan sejarah Kota Bandung.
Kenapa Braga Masih Relevan?
Mungkin itu yang membuat Braga berbeda.
Di satu sisi, kita masih bisa menemukan jejak Bandung lama melalui bangunan-bangunan bersejarah dan arsitektur Art Deco.
Di sisi lain, Braga terus diisi oleh aktivitas baru: tempat makan, ruang kreatif, kegiatan seni, komunitas, hingga wisata perkotaan.
Masa lalu dan masa kini bertemu di satu ruas jalan.
Dan mungkin, itulah alasan mengapa berjalan kaki di Braga terasa berbeda dibanding sekadar melewati jalan biasa.
Braga bukan hanya jalan di tengah Kota Bandung. Braga adalah salah satu tempat di mana kita bisa melihat bagaimana Bandung tumbuh, berubah, dan tetap membawa sebagian masa lalunya hingga hari ini.
Braga dalam Satu Kalimat
Dari jalur pedati, berkembang menjadi pusat perdagangan dan gaya hidup, lalu bertahan sebagai salah satu wajah sejarah Bandung yang masih hidup sampai sekarang.
Bandung punya banyak cerita. Nexasora membantu menemukannya kembali.
