BANDUNG — Ada hari ketika Bandung terasa seperti biasanya. Jalanan tetap ramai. Warung tetap buka. Orang-orang tetap bekerja, bersekolah, dan menjalani aktivitas seperti biasa. Namun di bawah permukaan tanah, sesuatu sedang bergerak.
Sejak Rabu (16/9/2026), wilayah Kabupaten Bandung dan sekitarnya mengalami rangkaian gempa bumi yang terjadi berulang kali. Bukan satu.Bukan dua. Puluhan kali. BMKG mencatat 47 kejadian gempa sejak Rabu hingga Kamis (17/9) pagi. Beberapa di antaranya dirasakan masyarakat, terutama di wilayah Pangalengan dan sekitarnya. Dan ternyata, ceritanya tidak dimulai kemarin.
118 aktivitas gempa sejak Agustus
Data BMKG menunjukkan bahwa aktivitas kegempaan di kawasan Kabupaten Bandung dan sekitarnya sudah berlangsung lebih lama. Dalam periode 11 Agustus hingga 17 September 2026 pukul 08.00 WIB, tercatat 118 aktivitas gempa dengan magnitudo antara 1,0 hingga 3,4.
Dari jumlah tersebut, 13 kejadian dirasakan masyarakat di Pangalengan, Talegong, Cisewu dan wilayah sekitarnya. Intensitas yang dirasakan berada pada kisaran II–III MMI. Artinya, bagi sebagian warga, getarannya bukan sekadar angka yang muncul di layar pemantauan. Ada yang benar-benar merasakannya di dalam rumah. Sensasinya bahkan bisa menyerupai getaran seperti kendaraan berat yang melintas.
Lalu, sebenarnya apa yang terjadi?
BMKG menyebut rangkaian gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang secara tektonik berkaitan dengan aktivitas sesar lokal. Menariknya, berdasarkan analisis BMKG, sebaran episenter gempa tidak berada tepat pada Sesar Garut Selatan (Garsela) Segmen Kendang, Garsela Segmen Kencana, maupun Sesar Cicalengka.
Pusat-pusat gempa justru membentuk pola kelurusan barat daya–timur laut, sekitar 5–8 kilometer dari beberapa struktur Sesar Garsela. BMKG menyebut area tersebut masih membutuhkan kajian lebih lanjut untuk memastikan sumber yang memicu rangkaian aktivitas seismik tersebut. Dengan kata lain: para ahli masih terus mencari jawaban lengkapnya.
Disebut “gempa swarm”, apakah berarti akan terjadi gempa besar?
Ini bagian yang paling banyak membuat warga bertanya. Rangkaian gempa berulang dalam satu kawasan seperti yang terjadi di Pangalengan dapat disebut sebagai earthquake swarm atau gempa swarm. Tetapi istilah tersebut tidak otomatis berarti gempa besar akan segera terjadi.
Akademisi sekaligus anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa gempa swarm tidak selalu berkembang menjadi gempa yang semakin besar. Sebagian rangkaian justru dapat mereda secara bertahap. Jadi, warga tidak perlu panik hanya karena melihat angka aktivitas gempa terus bertambah. Namun bukan berarti boleh mengabaikannya. Tenang, tetapi tetap siap.
Bandung memang hidup di wilayah yang aktif secara geologi
Jawa Barat bukan wilayah yang asing dengan aktivitas kegempaan. Kondisi geologi kawasan selatan Jawa Barat cukup kompleks dan terdapat sejumlah struktur sesar aktif. Karena itu, rangkaian gempa kecil seperti yang terjadi sekarang seharusnya tidak hanya dilihat sebagai kabar yang membuat khawatir. Ia juga menjadi pengingat.
Tentang bagaimana sebuah kota dan masyarakatnya bersiap menghadapi sesuatu yang tidak bisa diprediksi secara pasti kapan akan terjadi. BMKG mengimbau masyarakat memastikan kondisi bangunan, mengamankan barang-barang yang mudah jatuh, menyiapkan tas siaga bencana, serta memahami langkah penyelamatan diri saat gempa terjadi.
Jadi, apa yang harus dilakukan warga?
Tidak perlu mengejar kepanikan. Tidak perlu pula mempercayai pesan berantai yang mengatakan gempa tertentu merupakan “tanda pasti” akan datangnya gempa besar. Yang perlu dilakukan justru sederhana: Kenali kondisi rumah. Amankan benda yang mudah jatuh. Siapkan kebutuhan darurat. Dan yang paling penting, ikuti informasi dari BMKG dan instansi resmi. Sebab dalam situasi seperti ini, informasi yang benar juga merupakan bagian dari mitigasi.
Bandung belum berhenti bergerak
Sampai Kamis, aktivitas gempa masih dipantau. BMKG terus melakukan pencatatan melalui jaringan sensor seismik yang tersebar di Jawa Barat. Lembaga tersebut juga masih melakukan kajian untuk mengetahui lebih jauh sumber rangkaian gempa yang terjadi di Kabupaten Bandung dan sekitarnya.
Untuk sementara, belum ada laporan kerusakan bangunan akibat rangkaian gempa tersebut. Jadi mungkin hari ini Bandung tetap terlihat seperti biasa. Kopi tetap mengepul. Kendaraan tetap memenuhi jalan. Aktivitas warga tetap berjalan. Tetapi jauh di bawah permukaan, bumi sedang mengirimkan pengingat kecil bahwa kita hidup di atas tanah yang tidak pernah benar-benar diam. Dan kali ini, Bandung sedang mendengarkannya.
